Utang Indonesia Membengkak

 YUMMI  #16
Yuk Membaca & Menulis!
Utang Indonesia Membengkak
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah utang terbanyak di jajaran negara Asean. Rasio utang Indonesia terhadap produk domestik adalah sebesar 27%. Padahal, menurut undang-undang nomor 17 tahun 2003, batas maksimal rasio utang sebesar 60%.
Yang lebih mengejutkan, Rasio utang indonesia ke bank dunia atau PDB Indonesia jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain di Asean. Filipina dan Australia, misalnya, yang masing-masing PDB-nya mencapai 36%. Disusul Malaysia 56% dan Thailand 44%. Menurut mantan menteri keuangan dan sekarang menjadi menteri perencanaan pembangunan nasional pada kabinet yang sama, Bambang P.S Brodjonegoro, tingginya rasio utang terhadap PDB bukanlah sebuah indikasi bahwa negara tersebut tengah dilanda kebangkrutan. Jepang, contohnya, negara yang total hutangnya nyaris mencapai dua setengah kali GDP, yakni 246 persen. Faktanya, Jepang sukses menjadi menjadi negara maju.
Jumlah utang luar negeri (ULN) pemerintah pusat pun terus bertambah. Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), jumlah utang pemerintah di akhir 2014 tercatat Rp 2.604,93 triliun. Dan hingga akhir Mei 2017 lalu, jumlah total utang luar negeri Indonesia mencapai Rp 3.672,33 triliun.
Jumlah utang luar negeri RI meningkat hingga Rp 1.067,4 triliun sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2014 hingga Mei 2017.
Menurut informasi dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, beberapa utang jatuh tempo dalam periode dua tahun ke depan, yaitu pada tahun 2018 dan 2019. Dalam rincian DJPPR, pada 2018 utang jatuh tempo mencapai Rp 390 triliun dan pada tahun 2019 sekitar Rp 420 triliun. Jika dijumlah, sekitar Rp 810 triliun. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal, menilai utang yang dibuat oleh pemerintah telah direncanakan dalam APBN. APBN Indonesia bersifat ekspansif, sehingga bisa membangun infrastruktur, membiayai pengeluaran untuk perlindungan sosial, transfer ke daerah, dan lain-lain, untuk pembangunan Indonesia.
Selama ini, pengeluaran pemerintah memang lebih besar dari penerimaan, maka pemerintah perlu melakukan utang untuk menjalankan anggaran defisit. Jika defisit dalam satu tahun APBN dijaga agar tidak lebih 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun tersebut.
Hal itu ada di UU Keuangan Negara dan pemerintah akan memastikan, menjaga maksimal utang 3% tersebut untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan negara tiap tahunnya.
Secara total akumulatif, utang memang naik. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari pengeluaran negara yang terus naik dan mengalami defisit di sekitar 2,4% di tahun 2017.
Namun, total akumulatif utang pemerintah saat ini, estimasinya hanyalah sekitar 28% dari PDB tahun 2017. Persentasenya tergolong rendah kalau dibandingkan negara-negara tetangga.
Pemerintah berpedoman pada Undang-Undang (UU) Keuangan Negara yang mengatur maksimal total utang pemerintah yang diperbolehkan, yakni 60% dari total PDB. Jadi, kalau saat ini Indonesia di sekitar 28% itu masih jauh dari maksimal yang diperbolehkan UU dan di bawah Negara-negara tetangga juga.
Mengapa Utang Indonesia Terus Bertambah?
Salah satu urgensi sebuah negara mengajukan pinjaman dari negara lain adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Utang tersebut dibutuhkan untuk hal-hal produktif yang ditujukan bagi keperluan masyarakat. Meski memiliki konotasi yang negatif, utang sebenarnya akan memberikan dampak positif selama dipergunakan untuk keperluan positif. Kesejahteraan masyarakat dan infrastruktur di desa-desa, contohnya, menjadi kontribusi nyata dari utang Indonesia.
Meski demikian, biasanya negera pemberi hutang mengintervensi kebijakan politik dan ekonomi suatu negara. Misalnya, Indonesia yang sering sekali didikte oleh kebijakan Amerika lantaran negara tersebut banyak berkontribusi dari segi finansial. Tak heran, jika kebijakan Indonesia pro pada negara pemberi utang seperti Amerika, Australia dan Singapura. Hutang memang sejatinya akan membuat seseorang, terlebih negara menjadi sengsara jika pinjaman tersebut tidak dapat dibayar.
Siapa Pemberi Utang Indonesia Terbanyak?
1. Bank Dunia
Bank Dunia atau yang lebih dikenal dengan World Bank adalah lembaga yang bergerak dalam bidang finansial, visi World Bank adalah memberikan bantuan bagi negara yang membutuhkan. Salah satu titik fokusnya adalah negara berkembang. Indonesia, contohnya, yang memiliki total utang Rp 221.51 triliun pada Bank Dunia, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya Rp 175,03 triliun.
2. Jepang
di urutan kedua disusul oleh negeri matahari terbit, utang pemerintah Indonesia pada jepang per Desember 2015 terbilang fantastis, yakni Rp 213,31 triliun. Utang tersebut jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya yakni Rp 212,78 triliun.
3. Asian Development Bank (ADB)
Asian Development Bank (ADB) adalah sebuah institusi yang ditujukan untuk membantu pembangunan bilateral antar negara, kususnya di daerah Asia Tenggara. Indonesia sendiri memiliki hutang sebesar Rp 126,83 triliun pada ADB. Jumlah tersebut lebih besar 16,9% dari total utang sebelumnya, yakni Rp 107,35 triliun.
4. Prancis
Negara lain yang getol memberikan pinjaman uang kepada Indonesia adalah Perancis. Bagaimana tidak, per Desember 2015 saja Perancis rela memberikan pinjaman kepada Indonesia sebesar Rp 26,22 triliun. Nilai tersebut lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 24,63 triliun.
5. Jerman
Pada tahun 2014 silam, pemerintah Aceh mengusulkan pinjaman dana untuk pembangunan rumah sakit di Aceh. Hingga akhir Desember 2015, utang pemerintah ke Jerman adalah Rp 22,1 triliun, jumlah tersebut meningkat 2,9 persen dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 21,34 triliun.
6. Islamic Development Bank (IDB)
di urutan terakhir ada Islamic Development Bank (IDB). lembaga finansial internasional yang berdiri sejak tahun 1975 ini memberikan pinjaman kepada pemerintah Indonesia sebesar Rp 8,8 triliun. Jumlah tersebut lebih besar dari tahun sebelumnya 1,1 persen.
Utang Indonesia memang tergolong fantastis, namun dibalik itu semua ada manfaat yang bisa dirasakan secara masif oleh masyarakat. Pembangunan infrastruktur menjadi salah satu titik fokus penyaluran pinjaman tersebut.
Ditulis oleh :
Widiya Annisa Putri
Sumber :
– Kompas.com
– Uangteman.com
– Sindonews.com
– Liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *