Peran IDB Untuk Kelangsungan Perekonomian

YUMMI #9

Yuk Membaca dan Menulis!

Ekonomi syariah merupakan sistem perekonomian yang berlandaskan hukum islam. Sistem yang ada di dalam ekonomi syariah masih tabu dan belum banyak di pahami masyarakat luas. Padahal, sistem tersebut bisa mendongkrak perekonomian negara menjadi lebih baik. Maju atau tidaknya sebuah negara, dilihat dari perkembangan dalam perekonomiannya. Pada kehidupan perekonomian saat ini bunga bank menjadi salah satu sumber pendapatan negara. Mirisnya bunga yang ditawarkan kini makin melonjak naik.

Jika diulas kembali krisis yang melanda di tahun 1998 menjadi saksi bagi tragedi perekonomian bangsa. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Hanya dalam waktu setahun, perubahan dramatis terjadi. Prestasi ekonomi yang dicapai dalam dua dekade, tenggelam begitu saja. Tragedi tersebut juga sekaligus membalikkan semua bayangan indah dan cerah di depan mata menyongsong milenium ketiga.

Stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umumnya berjangka pendek yang telah menciptakan “ketidakstabilan”. Hal ini diperburuk oleh rasa percaya diri yang berlebihan, bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri dibidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri menghadapi besarnya serta persyaratan hutang swasta tersebut.

Pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan terhadap hutang yang dibuat oleh sector swasta Indonesia. Setelah krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar -benar menjadi masalah yang serius. Antara tahun 1992 sampai dengan bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta (World Bank, 1998). Mengapa demikian? Karena kreditur asing tentu bersemangat meminjamkan modalnya kepada perusahaan-perusahaan (swasta) di negara yang memiliki inflasi rendah, memiliki surplus anggaran, mempunyai tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, dan menjalankan sistem perdagangan terbuka.

Selama periode sembilan bulan pertama 1998, tak pelak lagi merupakan periode paling hiruk pikuk dalam perekonomian. Krisis yang sudah berjalan enam bulan selama tahun 1997,berkembang semakin buruk dalam tempo cepat. Dampak krisis pun mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat, dunia usaha.

Dana Moneter Internasional (IMF) mulai turun tangan sejak Oktober 1997, namun terbukti tidak bisa segera memperbaiki stabilitas ekonomi dan rupiah. Bahkan situasi seperti lepas kendali, bagai layang-layang yang putus talinya. Krisis ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara.

Berbeda dengan IDB, yang merupakan institusi keuangan internasional yang didirikan berdasarkan Declaration of Intent yang dikeluarkan oleh Konferensi Menteri Keuangan Negara-negara Muslim di Jeddah, Dhul Q’adah 1393H atau Desember 1973. Rapat perdana Dewan Gubernur berlangsung pada bulan Rajab 1395H atau Juli 1975 dan IDB resmi beroperasi pada 15 Syawal 1395H atau 20 Oktober 1975. Saat ini, anggota IDB terdiri atas 56 negara yang juga anggota OKI.

IDB didirikan dengan semangat untuk menyediakan pembiayaan sesuai syariah Islam untuk pembangunan ekonomi dan sosial bagi negara-negara anggotanya dan komunitas Muslim di luar negara anggota. Secara organisasi, kekuasan tertinggi dalam organisasi IDB adalah Dewan Gubernur (Board of Governor). Dewan Gubernur merupakan perwakilan dari negara-negara anggota IDB yang biasanya menduduki jabatan Menteri Keuangan atau Menteri Ekonomi.

Indonesia telah memperoleh manfaat yang cukup besar dari keberadaan IDB. Sejak 1975 hingga 2016 (Januari), total pinjaman Indonesia ke IDB mencapai US$3.761,10 juta. Adapun sektor terbesar yang mendapatkan pinjaman IDB terbesar adalah pertanian, pendidikan, keuangan dan transportasi. Sedangkan untuk sektor-sektor lainnya pada umunya sangat kecil. Adapun sektor terbesar yang mendapatkan pinjaman IDB terbesar adalah pertanian (37,30%), pendidikan (22,94%), keuangan (6,54%) dan transportasi (2,67%).

Nyata sekali bahwa kehadiran IDB bagi Indonesia sangat penting, utamanya dalam mendukung pendanaan bagi pembangunan di Indonesia. Kedepan kita berharap peranan IDB bagi pembangunan di Indonesia semakin besar, terutama dalam rangka mendukung pembangunan infrastruktur yang kini sedang dipacu habis-habisan oleh pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo.

 

Ditulis oleh : Dyah Kartika

 

Sumber :

m.bisnis.com

Id.m.wikipedia.org

World bank, 1998

Hashfi Aufar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *