Indonesia akan Redenominasi Rupiah?

 YUMMI #14
Yuk Membaca & Menulis!
Indonesia akan Redenominasi Rupiah?
Kalian sudah tahu bahwa pemerintah mengeluarkan rupiah dengan tampilan baru, rupiah kali ini sudah di pilih dengan baik dan seksama oleh pemerintah x BI dengan menyesuaikan komposisi dari negara yang beragam dan berjejer dari ujung timur ke barat.
Kalo udah punya rupiah baru yang dikeluarkan oleh pemerintah coba dilihat deh apa aja sih yang ada di uang rupiah tersebut. Masih ingatkan dengan cara 3D ( Dilihat, Diraba, Diterawang), kalau dilihat dalam setiap mata uang di dunia pasti terdapat angka yang menjadi satuan ukuran nonimal.
Ada rencana pemerintah akan mengurangi jumlah nominal pada mata uang rupiah gengs atau disebut redenominasi mata uang.
Redenominasi menurut KBBI berasal dari kata denominasi /de·no·mi·na·si/ adalah harga surat berharga (sertifikat bank dan sebagainya) yang tercantum di dalam surat itu.
Dengan demikian yang dimaksud dengan redenominasi adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Redenominasi rupiah mengacu pada penyederhanaan mata uang rupiah dengan mengurai 3 digit angka. Artinya jika Rp 10.000 jadi Rp 10, Rp 1000 jadi Rp 1 , dan begitu selanjutnya.
Sudah banyak negara yang melalukan redenominasi pada mata uangnya seperti :
1. Bolivia 1987
2. Peru 1991
3. Georgia 1995
4. Angola 1999
5. Turki 2005
Negara yang belum lama ini meredonominasi mata uangnya ialah Belarus pada tanggal 1 Juli 2016 lalu.
Mata uang Belarusia sendiri “mirip” seperti mata uang negara kita Misalnya untuk membeli 1 kg tepung terigu di Belarusia butuh uang 8.000 Rubel, harga 1 kg kentang 4.000 Rubel, termasuk untuk membeli 10 butir telur butuh 16.000 Rubel atau 1.600 Rubel per butir telur.
Redenominasi
membuat mata uang Rubel Belarusia menjadi lebih gagah terhadap dolar AS. Sebelum 1 Juli, 1 dolar AS setara dengan 20.000 Rubel, setelah redenominasi 1 dolar cukup ditulis dengan 2 Rubel saja. Lembaran 50.000 Rubel Belarusia berganti tulisan jadi hanya 5 Rubel. Meski ada uang baru, hingga akhir 2016, uang keluaran lama masih bisa berlaku.
Presiden Belarusia Alexander Lukashenko memutuskan redenominasi tahun lalu, meski sudah dikaji sejak 2008. Jauh-jauh hari, sang presiden menjamin kebijakan redenominasi tak akan menyebabkan kenaikan harga dan inflasi di negaranya.
Ketakutan dampak negatif redenominasi ini lah yang menghinggapi banyak negara, termasuk Indonesia untuk memulai redenominasi rupiah yang sudah digagas sejak 6 tahun lalu.
Bagaimana di Indonesia?
Gagasan redenominasi di Indonesia lahir saat Darmin Nasution menjabat sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Gubernur BI Boediono yang jadi wakil presiden. Pada pertengahan 2010, ide ini digulirkan oleh BI. Ide BI ini langsung disambut pemerintah.
Gagasan menghapus tiga angka nol pada rupiah seolah sudah di depan mata dengan upaya sosialisasi semacam tes pasar ke publik pada 2011-2012. Merasa yakin, akhirnya pada Juni 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengirimkan surat bernomor 25/Pres/06/2013 tentang Rancangan UU tentang Perubahan Harga Rupiah atau RUU Redenominasi kepada DPR.
Hasilnya?
DPR menindaklanjutinya dengan memasukan RUU redenominasi pada 25 Juni 2013 dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Sayangnya pada waktu itu, pemerintah maupun DPR sudah sibuk dengan pertarungan jelang Pemilu 2014. Rasa pesismistis publik pun muncul terhadap redenominasi.
Lalu bagaimana dengan sekarang?
Benar saja, sampai masa jabatan Presiden SBY berakhir, RUU redenominasi tak tembus. Sampai akhirnya, pemerintahan baru di bawah Presiden Jokowi mengusulkan RUU ini tetap masuk Prolegnas. Dari data Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan HAM, RUU redenominasi memang masuk dalam usulan pemerintah dalam Prolegnas 2015-2019 karena tujuannya dianggap positif.
BI akhirnya melihat kondisi ini sebuah hambatan untuk meneruskan redenominasi yang memang butuh persiapan lama. Menurut BI butuh waktu cukup panjang, minimal tujuh tahun untuk mempersiapkan redenominasi rupiah.
Meski demikian, ternyata RUU ini masih masuk Prolegnas periode 2015-2019, dari 169 RUU yang akan dibahas DPR dan pemerintah. Artinya semangat melaksanakan redenominasi masih ada di pemerintah maupun DPR. Namun pemerintah dan DPR nampaknya masih hati-hati soal redenominasi, apalagi ekonomi Indonesia baru saja sedikit bangkit setelah terpuruk selama tiga tahun terakhir.
Redenominasi memang menjadi tanya besar bagi negara yang mau melaksanakannya. Dari pengalaman negara lain, redenominasi tak semuanya berjalan mulus, ada yang gagal dan berhasil.
Semoga dengan masuknya rencana redenominasi dalam Prolegnas DPR dapat membuat Rupiah menjadi gagah kembali dan menjadi daya tarik bagi negara lain, dan dapat dilaksanakan secepatnya.
“Redenominasi akan memperkuat kepastian mata uang Indonesia, namun tidak berdampak pada apa pun secara nominal,” Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Ditulis oleh :
Akbar Halim Bagaskoro
Sumber :
– Tirto.id
– Kumparan.com
– Liputan6.com
– Kompas.com
– Tribunnews.com
– Voaindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *