CATATAN SIMPUL BANGSA #5

Halo, Fakultas Ekonomi!
Pada hakikatnya Pancasila merupakan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bersifat yuridis dan formal, oleh karena itu Pancasila sering disebut sebagai sumber dari segala sumber hukum.
Alhamdulillah pada Selasa, (13/06/17) telah dilaksanakan Simpul Bangsa (Silaturrahim Mahasiswa Peduli Bangsa) yang ke 5. Kali ini BSO Al- Iqtishodi FE UNJ mendapat kesempatan yang baik untuk mengusung sebuah tema ”Eksistensi Pancasila di Era Terkini” bersama Departemen Sosial dan Politik BEM FE UNJ.
Simpul Bangsa #5 berlangsung di Gedung N Ruang 111, Kampus A UNJ. Kali ini kami menghadirkan Narasumber luar biasa, yaitu Saudara Ahmad Firdaus selaku Kepala Departemen Kajian dan aksi strategis (Kastrat) LDK Salim UNJ Periode 2017.
Tepat Pukul 16:15 WIB, acara dibuka oleh Wahyudi selaku Pembawa Acara. Narasumber memulai dengan bahasan mengenai sejarah lahirnya pancasila, bahwa M. Yamin dan Ir. Soekarno masing-masing telah mengusulkan beberapa poin dasar negara untuk Indonesia merdeka, yakni :

 

Pada 29 Mei 1945 (Usulan Mr. Muhammad Yamin)

1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Peri Kesejahteraan Rakyat

Pada 01 Juni 1945 (Usulan Ir. Soekarno)
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan

 

Di samping itu ada pula rumusan dari piagam Jakarta. Kemudian setelah melalui berbagai penyesuaian, akhirnya terbentuklah lima dasar negara yang kita kenal dengan Pancasila sampai dengan sampai saat ini.

 

Pancasila merupakan karya bersama, bukan karya Presiden Soekarno seorang. Karena berdasarkan proses terbentuknya, pancasila telah melalui kesepakatan dan penyesuaian yang dicapai dengan cara yang sulit seperti yang disebutkan sebelumnya. Dalam pembahasannya terhadap nilai-nilai Islam, perlu diketahui bahwa tidak ada nilai pancasila yang bertentangan dengan Islam. Kepentingan atau hukum agama (syariat) justru diakomodasukan dalam pancasila.

 

Sebagai satu bukti, nilai Ketuhanan di pancasila ada didalam Qs. Al-Ikhlas, yang selalu mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk selalu mengesakan Tuhan. Hadirnya Islam telah membebaskan adanya penyembahan kepada sesama makhluk. Karena dalam kacamata Islam, tidak ada sesuatu yang berhak disembah selain Allah semata. Sehingga poin bertuhan di dalam pancasila senada dengan penyembahan terhadap Tuhan yang Maha Esa.

 

Sila Kedya, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Di Sila kedua ini mencerminkan nilai kemanusiaan dan bersikap adil. Islam selalu mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap adil dalam segala hal, adil terhadap diri sendiri, orang lain, hewan, bahkan alam. Karena masing-masing darinya memiliki hak dan kewajiban tersendiri

 

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. tidak ada pertentangan bahwa Islam mengajarkan persatuan, seperti dalam Q.S Ali Imran:103. Terdapat juga perintah untuk menaati pempin yang menjabat selagi masih benar dan tunduk pada hukum yang berlaku.
Keempat, pada Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Sila ini sangat selaras dengan apa yang telah digariskan al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Islam selalu mengajarkan untuk selalu bersikap bijaksana dalam mengatasi permasalahan kehidupan dan selalu menekankan untuk menyelesaikannya dalam suasana demokratis.

 

Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila yang menggambarkan terwujudnya rakyat adil, makmur, aman dan damai.

Adanya konsep yang “adil” , “beradab” dan “hikmah” dalam pancasila tidak didapat begitu saja. “Adil” itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seperti tujuan yang hendak dicapai dalam Islam bagi sebuah negeri, yaitu Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghaffuur.

 

Indonesia mempunyai ragam budaya yang sangat tinggi, demikian pula dengan Islam. Sifatnya yang dinamis, membuat selalu sesuai dengan perkembangan zaman. Jika terdapat pertanyaan menjebak dan ingin menjatuhkan salah satu pihak dengan pertanyaan, Pancasila dengan islam mana yang harus dipilih. Maka jawabannya adalah keduanya. Pancasila merupaka spirit untuk setiap orang yang didalamnya memberi kebebasan beragama.

 

Orang yang teriak takbir, menjalankan syariat agamanya bukanlah orang yang anti pancasila, melainkan orang tersebut sedang menjalankan agamanya, sekaligus mengamalkan Sila Pertama. Agama merupakan sebuah cara untuk beribadah dan meyakini keesaan Tuhan. Bangsa kita sudah konsesus final. ketika orang percaya dengan pancasila itu sebagai dasar negara maka hal itu tidak dapat di ubah.
Perjuangan bukan hanya persoalan berkorban jiwa dan raga untuk impian visi yang hendak dicapai. Jauh lebih luas lagi, perjuangan adalah soal rasa yang membuang ambisi, soal kepekaan yang menghilangkan ego dan apatisme, juga soal kemauan untuk terus hidup meski dirundung derita tiada akhir. Tak ada perjuangan, takkan pernah ada kemajuan. Jika kemajuan tak pernah datang, maka jangan berharap keberhasilan hadir menjemput hidup Indonesia.

 

Setelah sesi diskusi berlangsung, dan ditutup dengan pembacaan doa, akhirnya selesai pula Simpul Bangsa #5. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi jiwa yang haus akan pengetahuan.
Jaga semangatmu, dan sampai bertemu di Simpul Bangsa selanjutnyaa!

#BergerakwalauTergantikan
#AkarPerjuangan
#DepartemenMaisyah
#AzmiRabbani
#BersahabatMenebarManfaat
#HidupMahasiswa
#HidupRakyatIndonesia

 

BEM FE UNJ 2017

Kabinet Harmoni Perubahan

#HarmoniUntukNegeri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *