PRESS RELEASE PANJI SAKTI

Jakarta, (26/04) – Tim Aksi Pandu Aksi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (PANDAWA FE UNJ) mengadakan kajian bertema Tabir Komersialisasi Pendidikan “Menguak Pedagang Kaki Lima Pendidikan Indonesia” yang dikemas dalam sebuah kegiatan bernama Panji Sakti (Pandawa Mengkaji Masalah Terkini).

.

.

Panki Sakti berlangsung di Gedung N Ruang 111 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta pada pukul 16.00-18.00 WIB. Pembicara kali ini adalah Komandan Green Force UNJ Tahun 2015/2016, Ahmad Firdaus. Fokus pembahasan secara keseluruhan akan bermuara pada Aksi Mahasiswa untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei mendatang.

Alvin Fajar selaku pembawa acara mengawali diskusi dengan pembukaan dan dilanjutkan oleh pembacaan tilawah Al-Quran oleh Ahmad Haekal dan Hartono. Tiba pada acara inti, Farhan Habib Aprian selaku Kepala Divisi Pandawa memandu jalannya diskusi.

Ahmad Firdaus menyampaikan bahwa terlalu sempit jika hanya membahas terkait Komersialisasi Pendidikan, memang komersialisasi merupakan salah satu permasalahan pendidikan, namun nyatanya ada yang masih lebih penting.  Pada akhirnya pemateri mengajak peserta Panji Sakti untuk membahas “Quo Vadis Pendidikan Indonesia”, yaitu kemana arah pendidikan Indonesia saat ini?

Undang-Undang Sikdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1 yang dikutip pemateri bmenyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Pemateri kembali menekankan bahwa pendidikan itu merupakan usaha sadar dan terencana yang bukan karena kewajiban atau pun sekedar tuntutan belaka.

“Education is in the HEART, Not in the BRAIN.” – Unknown. Sebuah satu quotes yang merefleksikan perilaku sebagian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang duduk di bangku rakyat. Mereka memiliki title yang berlimpah tapi tidak memiliki akhlak yang berbanding lurus dengan ilmu yang dimilikinya. Korupsi, kolusi, nepotisme adalah contoh kebobrokan moral, sudah bukan tabu di pemerintahan saat ini.

Data dan fakta pendidikan Indonesia menyatakan bahwa antara angka partisipasi pendidikan dan jumlah kelulusan siswa di sekolah menengah tidak sebanding dengan daya tampung sekolah tinggi. Sedangkan angka buta huruf telah mencapai 20 juta penduduk di Indonesia. Memang partisipasi pendidikan meningkat, namun kualitasnya masih congkang dan tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama.

Menurut data yang di dapat dari PISA, Indonesia sebagai kelompok OECD pada tahun 2014 berada pada tingkat 71 dari 72 negara untuk kualitas pendidikan  kemudian pada tahun 2015 mendapat peringkat ke-69 dari 72, lalu terakhir pada tahun 2016 berada di posisi ke-64 dari 72 negara. Learning Curve Report memaparkan bahwa Indonesia telah berada di tingkat 40 dari 40 negara sejak 2012-2016.

Pemateri memaparkan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Diantaranya, hanya buku paket yang dijadikan acuan; sistem pengajaran yang monoton; kualits guru yang rendah; serta ketidak jujuran dan budaya mencontek. Sekolah sebagai “pabrik”, siswa sebagai “pasar”. Pendidikan hakikatnya adalah memanusiakan manusia, UUD 1945 pasal 31 ayat 1 “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” dimana tidak boleh ada siswa ataupun mahasiswa yang hanya karena belum bisa membayar biaya sekolahan dia di drop out atau dikeluarkan.

Terakhir mengenai pandangan dan  arah gerakan mahasiswa. Isu prioritas baik di tingkat Dasar-Menengah maupun Riset dikti, antara lain dapat dirangkum sebagai berikut:

Tingkat Dasar-Menengah:

  • Kualitas Guru rendah;
  • Sekolah tidak ramah anak (anak menganggap sekolah bukan tempat yang nyaman);
  • Diskriminasi terhadap kelompok marjinal (miskin, difabel, dan lain-lain).

 

Tingkat Riset Dikti:

  • Kualitas tenaga pengajar, kekurangan Guru Besar;
  • Mahalnya biaya pendidikan;
  • Komersialisasi Pendidikan (Isu PTNBH);
  • Upaya pembatasan berekspresi dan mimbar akademik bagi mahasiswa, melalui study oriented. (Pembatasn demonstrasi, Dropout dan lain-lain);
  • Tuntutan akademik yang terlalu padat.

 

Sesi diskusi :

  • Apa yang harus dilakukan mahasiswa ataupun seluruh elemen masyarakat? -Alvin Fajar;
  • Masalah apa yang harus diselesaikan dari awal? – Akbar Kurnianto.

Jawaban :

  • Mengubah yang sudah menjadi budaya (darah daging) lingkaran setan, contohnya mengubah mengajar untuk mendidik susah.
  • Cara terdekat ialah memperhatikan kuatlitas guru (segi pemerintah).
  • Bagaimana pendidikan bisa di akses untuk semua orang yang termasuk dalam usia belajar.
  • Mahasiswa menjadi volunteer pendidikan, dengan mengingatkan pemerintah (Kajian Holistik tentang Pendidikan kepada Kemendikbud dan Kemenrisetdikti)
  • Inti dari gerakan mahasiswa ialah moral force dimana mengambarkan bahwa mahasiswa sebagai kaum intelektual.

Acara selanjutnya adalah penyerahan kenang-kenangan dari panitia Panji Sakti kepada Ahmad Firdaus, dilanjutkan dengan doa penutup yang disampaikan Bayu Adji Pamungkas serta penutupan dari Alvin Fajar selaku pemandu acara Panji Sakti kali ini. Terakhir adalah sesi foto bersama pembicara, peserta dan panitia PANJI SAKTI edisi Tabis Komersialisasi Pendidikan “Menguak Pedagang Kaki Lima Pendidikan Indonesia.”

Sampai Jumpa di PANJI SAKTI PANDAWA FE UNJ selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *