Bagaimanapun tetap Jakarta

Tepat pada hari Rabu Kemarin tanggal 22 Juni 2016, Jakarta sebagai Ibukota Negeri ini bertambah usianya. Sejenak saya lihat dibeberapa media online, media social dan lain-lain, terlihat disana muncul berbagai ucapan, doa, dan harapan diutarakan oleh banyak orang. Namun, disisi lain tidak sedikit juga yang memberikan komentar negatif atau sekedar mengeluhkan apa yang mereka rasakan selama tinggal di Jakarta.

Pagi ini, tiba – tiba muncul semangat saya untuk sedikit memberikan pandangan terkait fenomena tersebut. Semua orang saya rasa sudah sangat paham minimal kita tahu tentang kehidupan di Jakarta. Bahkan sebagian dari kita mungkin yang langsung merasakannya, tapi seolah fakta yang berbicara banyak. Suka tidak suka, senang tidak senang inilah Jakarta. Kota dengan segala ceritanya.  Entah karena apa seolah kita “lupa” kalau ternyata dibalik semua problematika yang ada, kita tetap menikmati bahkan menggantungkan banyak harapan dari kota ini. Terbukti, bisa dipastikan kalau disetiap tahunnya Penduduk di Kota ini selalu bertambah. Terbukti, kalo ternyata dilangit – langit Jakarta masih banyak  mimpi – mimpi besar kita tergantung disana, terlebih Jakarta sebagai Pusat Pemerintahan Indonesia, semua hal seakan mendukung ternyata “Banyak loh yang telah kita dapatkan dari Jakarta”. Maka tak heran, itu juga yang menjadi alasan banyak orang untuk menyambung hidupnya dikota ini.

Bagaimanapun Tetap Jakarta By Rizki Hidayatullah

Lantas pertanyaannya adalah: Apa yang sudah kita berikan untuk Jakarta ?

kita mengeluh tapi kita juga menikmatinya, kita mencibir tapi kita juga yang sebenarnya menjadi objek cibiran orang – orang. Macet, banjir, kumuh, ketimpangan sosial, kejahatan, bahkan sampai perebutan kekuasan seolah menjadi obrolan hangat yang sangat menarik untuk dibahas dari Kota Jakarta.

Namun, Hari ini Jakarta sudah semakin tua dengan umurnya. Bak layaknya merawat orangtua yang sudah mulai berumur, mereka membutuhkan perhatian yang lebih, Jakarta juga seperti itu. Mungkin Jakarta hanya benda mati yang tak bisa berbicara tentang hal ini, tapi kitalah sebagai orang yang mengerti akan hakikat itu, mari sama – sama kita bangun Jakarta KITA. Slogan Jakarta Bersih, Maju, Melayani semoga bukan sekadar kata – kata miliknya pemerintah dalam rangka merayakan HUT DKI Jakarta tetapi semua orang yang ada, tinggal, mendapatkan manfaat banyak dari Jakarta juga harus tau , merasakan dan mau untuk mewujudkan impian tersebut.

Intinya mari sama – sama kita bangun Jakarta, karena Jakarta membutuhkan elo, gue, dan kita. Kurangin banyaknya mengeluh, tapi banyakin hal positif yang bisa merubah Jakarta. Mari belajar banyak dari Patung Selamat Datang yang ada di Jakarta. Patung itu seakan memberikan filosofi sendiri untuk siapapun yang memperhatikannya. Pertama, Ide pembuatan Patung atau Monumen Selamat Datang merupakan gagasan dari Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno. Rancangan awal dikerjakan oleh Henk Ngantung, yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Patung terdiri dari dua pemuda-pemudi yang sedang melambaikan tangan dan membawa buket bunga. Patung tersebut menghadap ke utara, yang berarti mereka menyambut orang-orang yang datang dari arah Monumen Nasional.

Seakan patung itu memberikan pesan dibalik banyaknya masalah yang ada, Jakarta selalu menjadi tempat nyaman untuk siapapun yang datang.

Akhir kata, Mohon maaf bila banyak ke ”Soktauan”, atau ketidaknyamanan hati ketika membacanya. Sejujurnya ini hanya sebagian kecil dari cerita panjang gue sebagai Mahasiswa yang dari kecil sudah merasakan, melihat dan mengamati kehidupan Kerasnya Jakarta.

Sekali lagi, Dirgahayu Jakarta ke – 489, semoga yang disemogakan bukan hanya sekedar kata “semoga”.

Jaya Jakarta!! Sukses buat kita semua. Semoga HUT Jakarta yang berada dibulan Ramadhan menambah keberkahan buat Jakarta dan semua orang yang mencintainya.

 



Lebih dekat dengan kami, kunjungi akun media social kami di

 Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *